Moveon88 – Anthony Gordon mencatat malam paling brilian dalam karier Eropanya dengan empat gol yang ia lesakkan sebelum jeda, mengantar Newcastle United menghancurkan Qarabag 6-1 pada leg pertama play-off knockout Liga Champions di Stadion Republik Tofiq Bahramov. Penampilan eksplosif sang penyerang Inggris menjadi pusat dari dominasi total The Magpies di tepi Laut Kaspia, menempatkan leg kedua di St James’ Park pada 24 Februari sebagai laga yang, di atas kertas, hanya tinggal formalitas. Dalam laga yang memperlihatkan ketajaman, intensitas, dan efektivitas lini depan, Malick Thiaw menambah pundi gol Newcastle di babak pertama, sementara Jacob Murphy menutup pesta di babak kedua. Balasan Elvin Jafarguliyev, yang sempat dianulir sebelum disahkan VAR, menjadi hiburan minor bagi tuan rumah yang malamnya berakhir dengan kekecewaan besar akibat rapuhnya pertahanan dan keputusan-keputusan tergesa di area krusial.
Newcastle datang ke Baku dalam arus kepercayaan diri yang kembali terbangun. Hanya kurang dari dua minggu sebelumnya, mereka dicemooh setelah kekalahan dari Brentford, namun reaksi cepat hadir lewat dua kemenangan tandang beruntun melawan Tottenham di Liga Primer dan Aston Villa di Piala FA. Perjalanan sejauh 2.529 mil menuju Azerbaijan—terpanjang yang pernah ditempuh klub Inggris untuk laga knockout Liga Champions—tak meninggalkan residu kelelahan. Sejak menit pertama, anak asuh Eddie Howe menampilkan tempo tinggi, pressing terukur, dan kecepatan memilih momen saat menusuk ruang di belakang garis pertahanan Qarabag yang tampak longgar dalam pengambilan keputusan.
Keputusan Howe menempatkan Gordon sebagai titik fokus serangan, alih-alih Nick Woltemade yang lebih natural sebagai target man namun kurang efektif dalam mobilitas, membayar lunas hanya dalam tiga menit. Dan Burn maju dari lini pertahanan, membaca celah di antara bek Qarabag, lalu mengirim umpan terobosan presisi. Gordon mengatur larinya dengan sempurna melompati jebakan offside, lalu menutup aksi dengan tembakan mendatar klinis ke sudut jauh dari jarak 12 yard. Gol cepat itu menyalakan mesin Newcastle. Pada menit kedelapan, Kieran Trippier mengirim umpan silang akurat yang disambut Thiaw dengan sundulan tenang melewati Mateusz Kochalski. Dua serangan, dua gol, dua cara berbeda, satu pesan yang sama: Newcastle datang untuk menguasai.
Qarabag mencoba merapatkan barisan, tetapi struktur bertahan mereka justru semakin keropos saat menghadapi sirkulasi cepat dan pergerakan tanpa bola dari Gordon serta rekan-rekannya. Pada menit ke-32, Harvey Barnes melepaskan tembakan yang diblok Matheus Silva dengan tangan saat meluncur, memaksa wasit menunjuk titik putih. Gordon melangkah pasti dan menuntaskannya tanpa ampun. Hanya semenit berselang, Kevin Medina melakukan kesalahan fatal dalam upaya menghalau bola. Gordon, bereaksi paling cepat, melewati Kochalski dan menceploskan bola ke gawang kosong—sentuhan predator yang menggenapkan hat-trick profesional pertamanya. Catatan itu menempatkannya dalam buku sejarah Newcastle sebagai pemain ketiga yang mencetak hat-trick di Liga Champions, setelah Alan Shearer dan Faustino Asprilla, sekaligus hat-trick tercepat oleh pemain Inggris di kompetisi tersebut—selesai hanya dalam 33 menit.
Gordon seolah menolak menutup babak pertama tanpa satu pukulan lagi. Aksi agresifnya menembus kotak penalti memaksa Kochalski melakukan pelanggaran yang kembali berujung penalti. Tanpa ragu, Gordon mengeksekusi dan menggenapkan empat golnya malam itu. Empat gol dalam 45 menit, di panggung terbesar klub Eropa, bukan sekadar statistik mencolok melainkan rangkaian momen yang menunjukkan kombinasi insting, kecepatan berpikir, dan ketenangan klinis. Total koleksinya musim ini pun bertambah menjadi 14 gol, termasuk 10 di Liga Champions—membawanya melampaui Alan Shearer sebagai pencetak gol terbanyak Newcastle dalam satu musim di kompetisi elite Eropa tersebut.
Qarabag mencoba bangkit selepas jeda dan akhirnya menemukan sedikit celah pada menit ke-54. Tembakan rendah Jafarguliyev semula dianulir karena offside, tetapi VAR kemudian mengesahkan gol tersebut. Momen itu memberi tuan rumah secercah harapan, namun Newcastle tak pernah benar-benar goyah. Blok pertahanan mereka tetap rapat, rotasi di lini tengah efektif memutus sirkulasi tuan rumah, dan setiap transisi balik menelanjangi kelemahan Qarabag di area sayap. Pada menit ke-72, Jacob Murphy memastikan keunggulan telak lewat tembakan yang mengenai pemain lawan dan mengecoh Kochalski, mengunci skor 6-1 dan, praktis, mengunci pula tiket ke babak berikutnya.
Usai pertandingan, Eddie Howe menyoroti kualitas permainan timnya, terutama pada 45 menit pertama yang hampir sempurna. “Ini adalah pujian untuk tim hari ini. Kami benar-benar bagus di babak pertama. Itu adalah penampilan terbaik kami dalam waktu yang lama,” ujarnya. “Saya tahu pertandingan belum berakhir tetapi kami berada di posisi yang bagus.” Howe juga memberikan kredit spesial kepada Gordon: “Dia benar-benar bagus di babak pertama. Dia memulai tekanan, sejumlah golnya berasal dari sikapnya tanpa bola. Dia bisa saja mencetak lebih banyak gol, tetapi penampilannya sangat bagus.”
Bagi Newcastle, yang musim lalu mengakhiri penantian 70 tahun untuk trofi domestik utama lewat gelar Piala Liga, langkah ini menghidupkan ambisi lebih besar: menembus babak 16 besar Liga Champions untuk pertama kalinya. Jika tidak terjadi keajaiban comeback dari Qarabag di Tyneside, tim Howe akan berjumpa Barcelona atau Chelsea pada fase berikutnya—ujian yang lebih berat, tetapi juga panggung yang lebih pantas bagi performa setajam ini. Ketika lini belakang disiplin, lini tengah rapi dalam distribusi dan pemulihan, serta lini depan setajam malam ini, Newcastle tampak seperti tim yang tidak hanya menikmati petualangan Eropa, melainkan bertekad menandai peta benua dengan tinta tebal.
Di sisi lain, Qarabag harus bercermin pada pertahanan yang berantakan, koordinasi yang goyah saat menghadapi pergerakan diagonal, serta keputusan menit-menit awal yang membuka pintu lebar untuk Newcastle. Dukungan publik sendiri tidak cukup menutup jurang kualitas dan eksekusi. Mereka butuh malam sempurna di St James’ Park, plus keberuntungan luar biasa, untuk membalikkan agregat sebesar ini—sesuatu yang dalam sepak bola selalu mungkin, namun nyaris mustahil melihat cara The Magpies menuntaskan tiap peluang.
Malam di Baku pada akhirnya menjadi milik Anthony Gordon: empat gol, rekor-rekor terpecahkan, dan satu pernyataan keras bahwa Newcastle bukan sekadar undangan pelengkap pada fase knockout. Mereka datang dengan ritme, rencana, dan rasa lapar. Dan jika performa seperti ini berlanjut, perjalanan musim ini bisa melangkah jauh melewati sekadar target minimum. Bagi publik Tyneside, 24 Februari kini mendekat bukan dengan cemas, melainkan dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Pesta Empat Gol Anthony Gordon: Newcastle Lumat Qarabag 6-1, Jalan ke 16 Besar Terbentang Lebar Moveon88 – Anthony Gordon…
Guirassy Menyala di Signal Iduna Park: Dortmund Jinakkan Atalanta 2-0, Modal Besar Jelang Tandang ke Italia Moveon88 – Borussia…
Dua Kali Menerpa Tiang, Ambruk di Menit Akhir: Girona Balikkan Keadaan 2-1 atas Barcelona, Madrid Mantap di Puncak Moveon88…
Kisah Piala FA Kian Memanas: Wrexham Lanjutkan Dongeng dengan Menyingkirkan Ipswich, Chelsea Mengamuk di Markas Hull Moveon88 – Wrexham…