Moveon88 – Presiden FIFA Gianni Infantino menyerukan pemulihan status sepak bola Rusia di panggung internasional dan menilai pengucilan selama empat tahun tidak menghasilkan dampak positif. Dalam wawancara dengan Sky Sports di London akhir pekan lalu, yang berlangsung di sela-sela ajang FIFA, Infantino menegaskan keinginannya agar proses reintegrasi dimulai dari tim-tim usia muda, sembari menolak tegas dorongan boikot terhadap Piala Dunia 2026 serta membela keputusannya menganugerahkan hadiah perdamaian kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, FIFA menangguhkan partisipasi Rusia dari kompetisi resmi. Implikasi kebijakan tersebut sangat nyata: Rusia tidak tampil di Piala Dunia 2022 di Qatar dan dikecualikan dari kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan digelar musim panas ini di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Menurut Infantino, pembatasan tersebut tidak membawa solusi, melainkan justru mempertebal jurang ketegangan. Ia menilai olahraga semestinya berperan sebagai jembatan, bukan alat pemisah. “Kita harus (mempertimbangkan untuk mengizinkan kembali Rusia), tentu saja, karena larangan ini tidak mencapai apa pun. Ini hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian,” ujarnya. Ia menambahkan, mengembalikan anak-anak dan remaja Rusia ke ekosistem kompetitif Eropa—“dengan adanya anak perempuan dan laki-laki dari Rusia yang dapat bermain sepak bola di bagian lain Eropa”—akan membantu memulihkan interaksi positif lintas batas.
Dalam struktur tata kelola sepak bola, kewenangan terkait partisipasi di kompetisi Eropa berada di tangan UEFA. Komite Eksekutif UEFA dijadwalkan bersidang pada 11 Februari di Brussel, Belgia, dengan kemungkinan membahas arah kebijakan terhadap Rusia. Namun, Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya menegaskan sikap bahwa perang di Ukraina harus berakhir sebelum wacana rehabilitasi penuh dapat dipertimbangkan. UEFA sempat mencoba membuka celah pada 2023 dengan rencana memberi ruang bagi tim U-17 Rusia untuk ikut kualifikasi turnamen kontinental, berdasar argumen agar anak-anak tidak dihukum atas tindakan pemerintah. Akan tetapi, rencana itu batal setelah sekitar selusin federasi nasional mengancam memboikot pertandingan yang melibatkan Rusia. Situasi ini menandai betapa sensitifnya isu pengucilan, bahkan ketika menyentuh level usia muda yang selama ini kerap dipandang sebagai wilayah netral dalam pembangunan bakat dan nilai-nilai sportivitas.
Pada level senior, tim putra Rusia dibatasi pada pertandingan persahabatan. Teranyar, mereka melakoni uji coba melawan Chile dan Peru pada November lalu. Kontras dengan kondisi saat ini, Rusia pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan melaju hingga perempat final—sebuah momen puncak yang terjadi pada masa jabatan pertama Infantino sebagai Presiden FIFA. Bagi Infantino, pengalaman itu menjadi pengingat akan potensi sepak bola sebagai perekat sosial dan kebanggaan nasional, sekaligus contoh bagaimana turnamen besar dapat meninggalkan warisan yang melampaui batas politik sesaat. Karena itu, ia mengatakan penolakannya terhadap larangan bersifat prinsipil. FIFA, katanya, seharusnya menegaskan dalam statuta bahwa negara tidak boleh dilarang bertanding karena tindakan para pemimpin politiknya. Pandangan ini, dalam kacamata Infantino, memisahkan ranah olahraga dari praktik politik praktis—sebuah garis yang ia nilai penting untuk dijaga agar sepak bola tetap menjadi ruang inklusif.
Di saat bersamaan, Infantino juga berada di pusat perdebatan lain: keputusannya memberikan hadiah perdamaian perdana FIFA kepada Presiden AS Donald Trump pada pengundian Piala Dunia 2026 di Washington DC pada Desember lalu. Penganugerahan itu menuai kecaman dari berbagai kalangan dan kembali menjadi sorotan setelah pasukan AS menangkap presiden Venezuela Miguel Maduro, sementara Trump menambah kontroversi melalui keinginannya untuk memperoleh Greenland atas alasan keamanan nasional. Menanggapi rentetan kritik, Infantino bersikukuh bahwa penghargaan tersebut memiliki dasar. “Secara objektif, dia pantas mendapatkannya,” katanya. Ia menekankan bahwa FIFA harus mendorong setiap inisiatif yang dinilai dapat membantu perdamaian. “Apa pun yang dapat kita lakukan untuk membantu perdamaian di dunia, kita harus melakukannya, dan karena alasan ini, untuk beberapa waktu kami berpikir bahwa kami harus melakukan sesuatu untuk memberi penghargaan kepada orang-orang yang melakukan sesuatu.”
Kritik terhadap keputusan tersebut juga berkelindan dengan kekhawatiran akan potensi boikot Piala Dunia yang akan datang, mengingat sejumlah kebijakan dalam dan luar negeri pemerintahan Trump dinilai memecah belah. Kerusuhan yang terjadi di beberapa kota di AS, seperti di Minneapolis, terkait pendekatan pemerintah terhadap penegakan hukum imigrasi, menambah lapisan ketegangan. Infantino menepis kemungkinan boikot dan mempertanyakan standar ganda yang sering muncul ketika dunia usaha tidak diminta mengambil langkah serupa. Menurutnya, sepak bola seharusnya berdiri sebagai ruang aman yang memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang bertemu dan merayakan kebersamaan. “Tidak pernah ada seruan bagi bisnis untuk memboikot suatu negara, jadi mengapa sepak bola?” ucapnya. Ia menutup dengan penekanan bahwa di tengah dunia yang terfragmentasi dan diliputi agresivitas, sepak bola perlu terus memainkan peran sebagai jembatan yang menghadirkan perjumpaan, dialog, dan empati. “Di dunia kita yang terpecah belah, di dunia kita yang penuh agresivitas, kita membutuhkan kesempatan di mana orang-orang dapat berkumpul, dapat bertemu karena kecintaan mereka (pada sepak bola).”
Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi panggung uji bagi klaim-klaim tersebut: apakah sepak bola mampu mengatasi sekat-sekat politik dan sosial, serta apakah lembaga-lembaga pengelolanya dapat menyeimbangkan prinsip-prinsip universal olahraga dengan realitas geopolitik yang kompleks. Bagi Infantino, jawabannya terletak pada keberanian untuk mengembalikan sepak bola ke fungsinya yang paling mendasar—mempersatukan. Sementara keputusan formal mengenai status Rusia berada di tangan struktur organisasi yang relevan, seruan yang ia gaungkan membuka kembali perdebatan tentang di mana batas antara tanggung jawab moral dan misi pemersatu olahraga harus ditarik. Dengan kalender yang kian mendekati pesta sepak bola akbar musim panas ini, waktu akan segera menguji sejauh mana seruan itu menemukan gaung atau mendapat perlawanan.
Madrid Tersandung di La Liga, Keteguhan Timnas Putri Iran Warnai Pembuka Piala Asia Moveon88 – Real Madrid mengalami malam…
Mbappé Jalani Perawatan Lutut di Paris: Tanpa Operasi, Balik Kapan? Moveon88 – Kylian Mbappé tengah menepi dari lapangan hijau…
Badai Bola Mati di Emirates: Arsenal Tekuk Chelsea 10 Pemain, Asa Juara Makin Menggelegak Moveon88 – Arsenal memenangi lagi-lagi…
Tegas Melawan Rasisme: Benfica Skors Lima Suporter Usai Insiden Vinicius Junior, Laga Sempat Terhenti 10 Menit dan Madrid Melaju …