Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, Italia Kehilangan Gattuso dan Kehormatan yang Tersisa
Moveon88 – Gennaro Gattuso akhirnya menyerah. Pria yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia sebagai pemain pada 2006 itu resmi mengundurkan diri sebagai pelatih kepala tim nasional Italia, Sabtu (4/4/2026), menutup babak kelam yang mungkin menjadi yang paling menyakitkan dalam sejarah panjang sepak bola Azzurri. Bukan sekadar kekalahan biasa yang mengantarnya pergi — ini adalah kegagalan ketiga berturut-turut untuk lolos ke putaran final Piala Dunia, sebuah pencapaian memalukan yang tidak pernah terbayangkan oleh bangsa yang begitu mencintai il calcio.
Pengunduran diri Gattuso diumumkan melalui sebuah pernyataan resmi yang terasa berat namun penuh martabat. “Dengan berat hati, dan setelah gagal mencapai tujuan yang telah kami tetapkan, saya merasa waktu saya sebagai pelatih kepala tim nasional telah berakhir,” tulisnya. Ia melanjutkan dengan kalimat yang menyentuh rasa cinta terdalamnya pada sepak bola Italia: “Jersey Azzurri adalah hal paling berharga dalam sepak bola, dan karena alasan itu, sudah sepatutnya kita segera memberi jalan bagi keputusan federasi di masa mendatang. Merupakan suatu kehormatan untuk memimpin tim nasional, terutama dengan sekelompok pemain yang telah menunjukkan komitmen dan dedikasi yang luar biasa.”
Namun kata-kata indah itu tidak mampu menutupi kenyataan pahit yang mengawali kepergiannya. Pada Selasa malam di Zenica, Italia takluk dalam drama adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina di babak final play-off kualifikasi Piala Dunia. Pertandingan tersebut berjalan menyiksa sejak awal — Italia hampir sepanjang laga kehilangan inisiatif dan ritme permainan. Situasi kian runyam ketika bek andalan Alessandro Bastoni menerima kartu merah sesaat sebelum babak pertama usai, membuat pertahanan Italia compang-camping dan moral pemain anjlok. Bosnia tampil dengan penuh keyakinan, dan sejujurnya bisa saja menuntaskan perkara di waktu normal. Namun sepak bola terkadang kejam dengan cara yang paling tidak terduga: Italia berhasil bertahan hingga adu penalti, dan di situlah babak paling tragis dimulai.
Gattuso memilih Pio Esposito, pemain muda yang minim pengalaman di panggung sebesar itu, sebagai penendang pertama. Keputusan itu langsung menuai harga. Tendangan Esposito melambung jauh melampaui mistar gawang, dan Italia pada akhirnya gagal dua kali dari titik putih. Bosnia melanjutkan perjalanannya ke Piala Dunia 2026, sementara Italia kembali pulang dengan tangan hampa dan kepala tertunduk.
Ironi perjalanan Gattuso sesungguhnya dimulai jauh sebelum malam bersejarah di Zenica. Ia mengambil alih kursi kepelatihan pada Juni tahun lalu, menggantikan Luciano Spalletti yang dipecat menyusul dua bencana besar: pertahanan gelar yang buruk di Euro 2024 dan kekalahan telak 3-0 dari Norwegia yang diperkuat Erling Haaland dalam laga kualifikasi perdana. Banyak pihak sejak awal mempertanyakan kelayakan Gattuso — rekam jejaknya sebagai pelatih klub jauh dari gemilang, dan penunjukannya lebih terasa sebagai taruhan emosional ketimbang keputusan strategis yang matang.
Di atas kertas, angka-angkanya tidak sepenuhnya mengecewakan. Dari delapan pertandingan, Italia meraih enam kemenangan, satu imbang, dan satu kekalahan, dengan 22 gol dicetak dan 10 gol kebobolan. Namun statistik hanyalah kulit luar dari sebuah cerita yang jauh lebih kompleks. Satu-satunya hasil imbang itu adalah laga melawan Bosnia — 1-1 yang kemudian berujung pada adu penalti bencana. Dan satu-satunya kekalahan itu pun datang dari Norwegia lagi, kali ini dengan skor 4-1 di kandang sendiri, di San Siro yang seharusnya menjadi benteng kebanggaan. Dua hasil itulah yang menjadi racun paling mematikan dalam karirnya bersama Azzurri.
Kepergian Gattuso bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah satu kepingan dari keruntuhan yang lebih besar di tubuh Federasi Sepak Bola Italia, FIGC. Gabriele Gravina, sang presiden FIGC yang awalnya memohon Gattuso untuk bertahan sesaat setelah kekalahan di Zenica, akhirnya turut melepas jabatannya sehari kemudian — setelah Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terbuka menyerukan agar ia mundur. Gianluigi Buffon, legenda hidup Italia yang menjabat sebagai manajer umum tim nasional, juga ikut pergi. Dalam waktu kurang dari 48 jam, tiga pilar utama sepak bola Italia runtuh sekaligus.
Sebelum mundur, Gravina sempat melontarkan kritik pedas kepada para politisi yang menurutnya “hanya mendorong pengunduran diri” tanpa menawarkan solusi nyata. Namun ia juga, dengan jujur yang mungkin terasa pahit, mengakui bahwa sepak bola Italia “berada dalam krisis yang mendalam.” Pengakuan itu mungkin adalah momen paling jujur yang pernah keluar dari mulut seorang petinggi FIGC dalam beberapa tahun terakhir.
Abodi pun tidak menyimpan kata-katanya. Kegagalan Italia untuk lolos ke Piala Dunia 2026 — edisi pertama yang menggunakan format 48 tim, sebuah turnamen yang bahkan akan menampilkan negara-negara seperti Tanjung Verde dan Curaçao — membuatnya mengeluarkan pernyataan blak-blakan: “Jelas bahwa sepak bola Italia perlu dibangun kembali dari bawah, dan itu dimulai dengan perubahan di puncak FIGC.” Kalimat itu terdengar seperti kalimat pembuka sebuah era baru — atau lebih tepatnya, pengakuan atas era yang telah lama hancur.
Di tengah kekacauan ini, Italia kini harus mempersiapkan laga persahabatan melawan Yunani pada 7 Juni tanpa pelatih definitif. Sebuah pelatih sementara akan ditunjuk untuk mengisi kekosongan itu, sementara pemilihan presiden baru FIGC baru akan digelar pada 22 Juni. Hingga saat itu, nama-nama yang paling sering disebut sebagai calon pengganti Gattuso adalah Roberto Mancini — arsitek kemenangan Italia di Euro 2020 — dan Antonio Conte, pelatih dengan rekam jejak yang jauh lebih konsisten di level klub maupun internasional. Namun tidak ada keputusan resmi yang akan diambil sebelum wajah baru FIGC terbentuk.
Krisis ini, sejatinya, bukan hanya tentang tim nasional. Ia adalah cermin dari kerusakan struktural yang telah lama menggerogoti sepak bola Italia secara menyeluruh. Tidak ada klub Serie A yang berhasil mengangkat trofi Liga Champions sejak Inter Milan pada 2010 — sebuah jarak waktu 16 tahun yang terasa seperti jurang yang semakin dalam. Kompetisi domestik kehilangan daya saing, akademi pemain muda berjalan tanpa arah yang jelas, dan infrastruktur stadion yang menua makin jauh dari standar Eropa modern.
Masalah infrastruktur ini bahkan telah menarik perhatian UEFA. Italia dijadwalkan menjadi tuan rumah bersama Euro 2032 bersama Turki, namun presiden UEFA Aleksander Ceferin pada Kamis lalu memberikan peringatan keras yang seharusnya didengar oleh seluruh pemangku kepentingan sepak bola Italia. “Saya hanya berharap infrastruktur di Italia akan siap. Jika tidak, turnamen tersebut tidak akan diadakan di Italia,” kata Ceferin dalam wawancaranya dengan Gazzetta dello Sport. Kalimat itu bukan sekadar sindiran — itu adalah ancaman nyata dari orang yang memiliki wewenang untuk mewujudkannya.
Italia kini berdiri di persimpangan yang paling kritis dalam sejarah sepak bolanya. Negara yang pernah empat kali menjadi juara dunia, yang melahirkan legenda-legenda seperti Paolo Maldini, Roberto Baggio, Francesco Totti, dan tentu saja Gattuso sendiri, kini harus bercermin pada kenyataan bahwa mereka tertinggal dari rival bersejarah seperti Prancis dan Spanyol bukan hanya dalam satu siklus, melainkan dua dekade penuh. Perjalanan untuk keluar dari lubang ini tidak akan mudah, tidak akan cepat, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti satu pelatih atau satu presiden federasi.
Yang pasti, Gennaro Gattuso telah pergi. Ia datang dengan harapan, bekerja keras dalam waktu singkat, tetapi pergi dengan beban yang mungkin memang terlalu besar untuk ditanggung seorang diri. Sepak bola Italia, untuk ketiga kalinya berturut-turut, akan melewati musim panas Piala Dunia hanya sebagai penonton — dan pertanyaan terbesar yang kini menggantung di langit Roma bukan lagi siapa pelatih berikutnya, melainkan apakah Italia masih punya keberanian dan kehendak kolektif untuk benar-benar membangun ulang dari fondasi terdalam.
-
16 Apr 2026Lookman Membalik Malam, Simeone Kembali ke Panggung Terbesar Eropa
-
15 Apr 2026Anfield Harus Jadi Saksi Keajaiban: Liverpool dan Beban Besar Membalikkan Takdir Melawan PSG
-
13 Apr 2026Villarreal Permalukan Athletic Bilbao di San Mamés, Tim Basque Terjerumus ke Bayang-Bayang Degradasi
-
13 Apr 2026Yamal Menyala, Barca Pesta, dan La Liga Hampir Tak Bisa Lepas dari Tangan Mereka
-
10 Apr 2026Kabar Buruk dari Bavaria: Lennart Karl Dipastikan Absen saat Bayern Munich Hadapi Real Madrid di Liga Champions
-
10 Apr 2026Kejatuhan Menyayat Hati: Leicester City di Ambang Neraka Divisi Ketiga Setelah Banding Poin Ditolak
-
08 Apr 2026Ketika Singa yang Terluka Datang ke Paris: PSG Tak Mau Terlena oleh Bayangan Liverpool yang Sedang Goyah
-
07 Apr 2026Leeds Bertahan dari Comeback Gila West Ham untuk Melangkah ke Semifinal Piala FA Pertama dalam 39 Tahun
-
07 Apr 2026Tujuh Kali Tak Terbendung, Monaco Terus Mengancam Mimpi Eropa Marseille
-
06 Apr 2026Tanpa Harus Main Pun Mereka Juara: PSV Eindhoven Rebut Mahkota Liga Belanda ke-27 dengan Megah
-
06 Apr 2026Keajaiban di St Mary’s: Gol Menit Akhir Shea Charles Hancurkan Arsenal dan Kirim Southampton ke Semifinal Piala FA
-
04 Apr 2026Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, Italia Kehilangan Gattuso dan Kehormatan yang Tersisa
-
04 Apr 2026Sang Ratu Bangkit: Lyon Lumat Wolfsburg di Perpanjangan Waktu, Melangkah Gagah ke Semifinal Liga Champions Wanita
-
03 Apr 2026Malam yang Membakar di Stamford Bridge: Arsenal Lolos ke Semifinal, Bompastor Pergi dengan Amarah yang Tak Tersembunyi
-
01 Apr 2026Menit-Menit Terakhir yang Mengubah Segalanya: Gyokeres Selamatkan Swedia dan Kirimkan Mereka ke Piala Dunia
-
31 Mar 2026Gol Telat Ito Mempermalukan Skotlandia di Kandang Sendiri, Jepang Menang Tipis 1-0 di Hampden Park
-
25 Mar 2026Legenda Atletico Melangkah ke Dunia Baru: Antoine Griezmann Pilih Orlando City untuk Bab Terakhir Kariernya
-
23 Mar 2026Giroud Patahkan Mimpi Marseille di Ujung Laga, Lille Curi Tiga Poin dari Kandang Sang Tuan Rumah
-
23 Mar 2026Nico O’Reilly Menghancurkan Arsenal, Manchester City Rengkuh Gelar Carabao Cup Kesembilan
-
22 Mar 2026Coventry Makin Tak Terbendung, Para Pesaing Terpeleset di Saat Krusial
Anfield Harus Jadi Saksi Keajaiban: Liverpool dan Beban Besar Membalikkan Takdir Melawan PSG Moveon88 – Arne Slot tidak mencoba…
Villarreal Permalukan Athletic Bilbao di San Mamés, Tim Basque Terjerumus ke Bayang-Bayang Degradasi Moveon88 – Ini bukan sekadar tiga…
Yamal Menyala, Barca Pesta, dan La Liga Hampir Tak Bisa Lepas dari Tangan Mereka Moveon88 – Pada sore yang…
-
UEFA Nation League : Prancis Dan Portugal Sama-sama Berjuang Membalikkan Keadaan di Leg Kedua -
UEFA Nations League: Sempat Gagal Eksekusi Penalti, Ronaldo Tebus Kesalahan Dengan Cetak Gol Saat Portugal Kalahkan Denmark 5-2 -
Juventus Tunjuk Igor Tudor Menggantikan Thiago Motta Yang Belum Genap Satu Musim Sebagai Manajer -
Argentina Membungkam Brasil 4-1 Usai Dipastikan Lolos ke Piala Dunia 2026 -
Indonesia Kalahkan Bahrain 1-0, Ole Romeny Cetak Gol Bagi Indonesia Untuk Tetap Menatap Laju ke Piala Dunia 2026 -
Selain 3 Tim Tuan Rumah, Empat Tim Lainnya Sudah Dipastikan Lolos Piala Dunia 2026 -
Liga Primer : Amorim Memberi Isyarat Manchester United -
Erling Haaland Diprediksi Akan Absen Lama Usai Mengalami Cedera Saat Membantu Man City ke Semifinal Piala FA -
Liga Primer: Diogo Jota Memastikan Liverpool Kokoh di Puncak Klasemen Usai Golnya ke Gawang Everton -
Bundesliga : Bayer Leverkusen Pangkas Jarak Dengan Pemuncak Klasemen Usai Menang Tipis 1-0 Saat Bertandang ke Heidenheim -
Liga Primer: Chelsea Kalahkan Tottenham dan Naik ke Posisi 4 Berkat Gol Enzo Fernandez di Babak Kedua -
LaLiga : Madrid Kalah di Bernabeu, Barcelona Imbang 1-1 vs Betis, Selisih Menjadi 4 Poin -
Mengejutkan, Real Madrid Dibantai Arsenal 3-0 di Emirates Stadium pada Leg Pertama Babak Perempat Final Liga Campions -
Flick Memuji Penampilan Timnya Usai Unggul Telak 4-0 Atas Dortmund di Leg Pertama Perempatfinal Liga Champions -
Ronaldo Borong Dua Gol Untuk Kemenangan Comeback Al Nassr 2-1 Atas Al Riyadh -
La Liga : Gol Bunuh Diri Bek Leganes Memberi Kemenangan Kepada Barcelona Untuk Nyaman di Puncak Klasemen -
Liga Primer: Liverpool di Ambang Juara, Ipswich dan Wolves Berjuang Keluar Dari Zona Degradasi -
Drama Panas Liga Champions 2025 -
Serie A: McTominay Cetak Brace, Lukaku Satu Gol Saat Napoli Cukur Empoli 3-0 -
Diprediksi Akan Mengamuk, Madrid Malah Digulung Kembali di Bernabeu