Moveon88 – Barcelona datang ke Montilivi dengan target sederhana namun sarat tekanan: merebut kembali puncak klasemen LaLiga. Namun derby Catalan yang panas berakhir menjadi malam penuh frustrasi bagi juara bertahan, ketika Girona membalik keadaan dan menang 2-1, membuat Real Madrid tetap nyaman di posisi teratas. Laga ini menggulung emosi dari awal hingga akhir—Barcelona dua kali digagalkan tiang gawang di babak pertama, unggul lebih dulu lewat Pau Cubarsí, lalu dipukul balik Thomas Lemar hanya tiga menit berselang, sebelum Fran Beltrán menutup drama dengan gol penentu pada menit ke-87.
Sejak awal, Barcelona memegang kendali ritme, merangkai penguasaan bola sabar sekaligus mempercepat tempo saat menemukan celah di sayap. Hasilnya tampak segera ketika Raphinha menggiring bola ke ruang sudut dan melepaskan tembakan yang melengkung, hanya untuk berakhir membentur tiang. Montilivi sejenak terdiam, namun momen itu justru mendongkrak energi tuan rumah. Girona bertahan rapat, mengompres ruang antarlini, dan mencari momen transisi, sementara Barcelona terus mengancam dengan variasi umpan pendek dan pergerakan diagonal ke kotak. Ketika tambahan waktu babak pertama tiba, Blaugrana mendapatkan kesempatan emas: Dani Olmo dijatuhkan di dalam kotak penalti dan Lamine Yamal maju sebagai eksekutor. Tembakannya keras, kiper tak berdaya, tetapi nasib berkata lain—bola membentur tiang yang sama, menguapkan peluang memimpin di saat paling krusial. Dua kali tiang menjadi gambaran betapa tipisnya jarak antara dominasi dan kehampaan.
Selepas jeda, Barcelona mencoba menekan lebih tinggi dan menumpuk pemain di area sepertiga akhir. Gol datang juga pada menit ke-59, saat eksekusi sepak pojok pendek dieksekusi cermat: Jules Koundé mengirim umpan silang kencang dan terukur, dan Pau Cubarsí, yang naik untuk menambah kekuatan di udara, menyambar dengan sundulan bersih. Skor 1-0 seolah menjadi konfirmasi atas alur laga—hingga Girona membalas secepat kilat. Hanya tiga menit kemudian, sayap tuan rumah menusuk dan melepaskan umpan silang lewat Vladyslav Vanat yang memicu kekacauan di area pertahanan Barcelona. Dalam momen ketidakteraturan itulah Thomas Lemar menunjukkan naluri pemangsa di kotak kecil, menyambar bola dari jarak dekat untuk menyamakan kedudukan. Gol balasan yang begitu cepat menggerus momentum Barcelona dan menyuntikkan kepercayaan diri ke tribun Montilivi yang kembali bergemuruh.
Pertandingan memasuki fase catur terbuka: Barcelona kembali menguasai bola, berusaha menggerus blok pertahanan Girona dengan sabar, sementara tuan rumah menjaga struktur dan menunggu momen untuk menusuk. Intensitas meningkat seiring menit berjalan, tekel-tekel dikirim dengan presisi dan keberanian, dan setiap duel udara jadi medan perebutan arah laga. Meski demikian, Barcelona—yang di babak pertama terlihat begitu dekat dengan keunggulan—perlahan-lahan kehilangan ketajaman di sentuhan akhir, juga karena disiplin barisan belakang Girona menutup area berbahaya dan memaksa keputusan sulit di sepertiga akhir.
Ketika tensi mencapai puncak, Girona menunjukkan efektivitas klinis. Pada menit ke-87, serangan rapi dari sisi lapangan berakhir di kaki Joel Roca, yang mengirim umpan matang ke jantung area penalti. Fran Beltrán membaca momen dengan sempurna, menyelinap ke ruang kosong dan menuntaskan dengan presisi untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1. Montilivi pun meledak, sementara Barcelona tiba-tiba berlari mengejar waktu. Upaya terakhir tim tamu makin tampak mendesak saat Joel Roca diusir keluar lapangan pada masa tambahan waktu karena pelanggaran keras terhadap Lamine Yamal, yang memberi Barcelona keuntungan jumlah pemain. Namun sekalipun menekan habis-habisan di sisa menit, mereka tak menemukan celah yang sama jernihnya seperti peluang-peluang di babak pertama—sebuah ironi yang menekankan betapa pentingnya efisiensi pada momen-momen kunci.
Hasil ini meninggalkan Barcelona di 58 poin, dua angka di belakang Real Madrid, dan mengukuhkan tren yang tak diinginkan: dua kekalahan beruntun di semua ajang untuk pertama kali sejak Oktober. Seusai laga, Pau Cubarsí tidak menutupi kekecewaannya. “Kami kekurangan segalanya. Kami perlu introspeksi diri. Kami perlu memperbaiki keadaan dan memperbaiki permainan kami,” ujarnya kepada DAZN. “Setelah gol saya, mereka langsung mencetak gol untuk menyamakan kedudukan. Kami terlalu cepat membawa mereka kembali ke permainan. Kita perlu memperbaiki diri dari gol-gol yang mereka cetak tepat setelah kita unggul. Tetap fokus dan terus berkembang.” Ucapan itu merangkum kegagalan Barcelona menjaga kontrol emosional dan taktis tepat ketika laga meminta ketenangan ekstra.
Bagi Girona, kemenangan ini bukan semata soal gengsi derby, melainkan bukti kematangan manajemen pertandingan. Mereka bertahan dengan disiplin, memanfaatkan kekeliruan kecil lawan, dan tampil dingin di momen penentu. Sementara bagi Barcelona, malam Montilivi menjadi pengingat pahit bahwa dominasi tanpa ketegasan akhir bukan jaminan poin, terlebih ketika fokus buyar usai mencetak gol. Dalam pertarungan gelar yang kian rapat, detail-detail kecil—dari eksekusi bola mati, konsistensi transisi, hingga menjaga konsentrasi setelah mencetak gol—akan menjadi garis penentu antara puncak klasemen dan posisi pengejar. Di Montilivi, detail-detail itu jatuh ke sisi Girona, dan Madrid pun tersenyum di puncak.
Guirassy Menyala di Signal Iduna Park: Dortmund Jinakkan Atalanta 2-0, Modal Besar Jelang Tandang ke Italia Moveon88 – Borussia…
Dua Kali Menerpa Tiang, Ambruk di Menit Akhir: Girona Balikkan Keadaan 2-1 atas Barcelona, Madrid Mantap di Puncak Moveon88…
Kisah Piala FA Kian Memanas: Wrexham Lanjutkan Dongeng dengan Menyingkirkan Ipswich, Chelsea Mengamuk di Markas Hull Moveon88 – Wrexham…
Arsenal Tergelincir di London Barat: Hasil 1-1 vs Brentford Buka Pintu Perburuan Gelar bagi Man City Moveon88 – Arsenal…