Moveon88 – Vitor Pereira tak butuh waktu lama untuk memberikan sentuhan berbeda pada Nottingham Forest. Dalam laga kompetitif pertamanya sebagai pelatih baru, Forest mencatat kemenangan tandang impresif 3-0 atas Fenerbahce pada leg pertama play-off Europa League, sebuah hasil yang bukan hanya menggetarkan ruang ganti, tetapi juga menempatkan mereka di ambang kelolosan jelang leg kedua di City Ground pada 26 Februari. Di malam yang sama, Stuttgart melumat Celtic 4-1 di Glasgow, mengguratkan catatan pahit dalam pertandingan ke-1.000 Martin O’Neill sebagai manajer.
Pereira, yang baru menandatangani kontrak 18 bulan untuk menggantikan Sean Dyche pada Minggu lalu dan menjadi pelatih keempat Forest musim ini, datang dengan reputasi tegas dan pendekatan proaktif. Ia mewarisi skuad dengan kualitas teknis bagus namun rapuh kepercayaan diri di Premier League, dan di Istanbul ia langsung memadukan disiplin organisasi dengan kebebasan berekspresi. Kembalinya Murillo ke daftar starter menjelma jadi keputusan jitu. Bek tengah asal Brasil itu membuka skor pada menit ke-21 melalui aksi individu yang nyaris memotong napas stadion: setelah mengatasi dua hadangan, ia melepas tembakan rendah mendatar dari sekitar 25 yard yang melaju kencang menembus sudut jauh gawang Ederson. Gol itu mengubah momentum, meredam gejolak tuan rumah, dan memberi Forest pijakan mental yang mereka butuhkan di laga Eropa yang berintensitas tinggi.
Keunggulan Forest berlipat jelang turun minum. Dari situasi sepak pojok Elliot Anderson di menit ke-43, Morgan Gibbs-White menyambut bola dengan gerakan yang membuat pertahanan Fenerbahce kelimpungan. Dalam kemelut di mulut gawang, Igor Jesus bereaksi paling cepat untuk menyundul dari jarak sangat dekat. Hanya tujuh menit babak kedua berjalan, giliran Gibbs-White yang mencatatkan namanya di papan skor, menuntaskan umpan matang Jesus untuk menegaskan dominasi tim tamu. Skor 3-0 bukan sekadar cerminan efektifnya Forest di kotak penalti, tetapi juga organisasi pertahanan yang rapi, transisi cepat, serta keberanian mengambil inisiatif yang tampak menjadi ciri permainan yang diinginkan Pereira.
“Bahkan sebelum datang, saya tahu para pemain punya kualitas tinggi. Mereka butuh hasil, tapi mereka juga perlu menikmati permainan,” kata Pereira usai pertandingan. “Saya meminta mereka mengekspresikan diri di lapangan. Mereka melakukannya. Itu hasil yang sangat bagus.” Bagi Forest yang saat ini hanya berjarak tiga poin dari zona degradasi Premier League, prioritas terbesar tetap bertahan di kasta tertinggi. Namun memperpanjang petualangan Eropa pertama sejak musim 1995-96—sebuah masa yang menghidupkan kembali memori kejayaan era Brian Clough—akan menjadi dorongan psikologis besar di tengah jadwal domestik yang menuntut. Pereira, yang menganggur sejak berpisah dengan Wolves pada November akibat start buruk, tentu memahami bahwa jabatan di City Ground datang tanpa jaminan stabilitas, terlebih musim ini pemilik klub Evangelos Marinakis sudah memecat Sean Dyche, Ange Postecoglou, dan Nuno Espirito Santo. Kemenangan telak di Turki ini, bagaimanapun, memberinya modal kuat untuk menenangkan ruang ganti dan suporter.
Kontras dengan euforia Forest, malam di Glasgow berubah muram bagi Martin O’Neill. Menandai pertandingan ke-1.000 dalam karier manajerialnya—sebuah tonggak yang seharusnya dikenang hangat—ia justru menyaksikan Celtic takluk 1-4 dari Stuttgart. Dua blunder Kasper Schmeichel menjadi titik balik menyakitkan. Pada menit ke-15, sapuan lemah sang kiper mengarah ke Bilal El Khannouss; tembakan datar gelandang pinjaman dari Leicester itu seharusnya bisa diamankan, namun lolos begitu saja. Celtic sempat mendapat gol penyama yang sama-sama konyol pada menit ke-21 ketika umpan buruk kiper Stuttgart Alexander Nuebel memicu kekacauan: Atakan Karazor dibuat kerepotan, bola pantul menyentuh Benjamin Nygren dan bergulir ke gawang kosong. Akan tetapi, El Khannouss memulihkan keunggulan tim tamu lewat sundulan jarak dekat pada menit ke-28.
Babak kedua membawa kekecewaan tambahan bagi Schmeichel. Pada menit ke-57, tembakan Jamie Leweling dari tepi kotak meluncur melewati upaya penyelamatan yang kurang meyakinkan. Di masa tambahan waktu, Tiago Tomas menutup pesta Stuttgart dan mengubur harapan Celtic untuk membawa pulang modal nyaman ke Jerman. Secara statistik, Celtic sudah lama bergelut di fase gugur Eropa—mereka belum pernah lolos dari babak ini sejak 2004—dan kekalahan telak pada leg pertama membuat tugas leg kedua menjadi nyaris mustahil. “Ini malam yang sulit bagi kami. Kami adalah penyebab kekalahan kami sendiri dalam banyak hal, kebobolan beberapa gol yang buruk,” ucap O’Neill. “Saya akan memikirkan berbagai hal, tetapi Kasper telah melakukan pekerjaan yang sangat baik sejak saya tiba di klub.” Ia juga menyoroti protes suporter kepada pemilik Celtic yang mengganggu menit pertama pertandingan: “Siapa pun yang berpikir itu adalah ide yang bagus perlu diperiksa kewarasannya.”
Di tempat lain pada malam leg pertama, Red Star Belgrade meraup kemenangan tandang krusial 1-0 di markas Lille berkat gol Franklin Tebo, hasil yang memberikan keunggulan tipis namun berarti di duel yang diperkirakan akan ketat. Bologna membawa pulang kemenangan 1-0 dari kandang Brann setelah Santiago Castro menjadi pembeda. Genk pulang dengan senyum lebar usai menaklukkan Dinamo Zagreb 3-1, terinspirasi dwigol Zakaria El Ouahdi yang tampil klinis. Ludogorets Razgrad menundukkan Ferencvaros 2-1 untuk mengamankan pegangan awal, sementara Viktoria Plzen memainkan laga seru yang berakhir 2-2 di markas Panathinaikos—hasil imbang bernilai yang menjaga peluang keduanya tetap terbuka. Dari Yunani pula, Celta Vigo memetik kemenangan 2-1 atas PAOK, mempertegas rapatnya persaingan di jalur play-off.
Rangkaian hasil ini mengubah peta menuju leg kedua. Forest berada di posisi unggul dengan tiga gol tandang dan tren performa yang membaik di bawah komando baru. Fenerbahce mesti tampil tanpa cela di City Ground jika ingin membalikkan situasi. Stuttgart, kuat dan efisien di Glasgow, memegang inisiatif penuh atas Celtic yang dituntut bereaksi cepat setelah malam yang penuh penyesalan. Di seluruh Eropa, margin-marginnya beragam, namun ritme dan emosi babak play-off sudah terasa: satu kesalahan bisa mengguncang arah, satu momen jenius bisa mematri sejarah. Bagi Pereira dan Forest, malam di Istanbul mungkin akan dikenang sebagai awal dari sesuatu yang lebih besar. Bagi O’Neill, ini menjadi pengingat getir bahwa sepak bola—bahkan di laga ke-1.000—tetap tak pernah kehabisan cara untuk mengejutkan.
Epos Pembuka MLS: Messi Kembali, Inter Miami Tantang LAFC di Coliseum Moveon88 – Dua klub paling bernilai di Major…
Debut Mewah Vitor Pereira: Forest Lumat Fenerbahce 3-0 di Istanbul, Stuttgart Rusak Pesta 1.000 Laga Martin O’Neill Moveon88 –…
Pesta Empat Gol Anthony Gordon: Newcastle Lumat Qarabag 6-1, Jalan ke 16 Besar Terbentang Lebar Moveon88 – Anthony Gordon…
Guirassy Menyala di Signal Iduna Park: Dortmund Jinakkan Atalanta 2-0, Modal Besar Jelang Tandang ke Italia Moveon88 – Borussia…