Moveon88 – Michael Carrick menegaskan Manchester United tidak boleh tergesa-gesa dalam menunjuk manajer permanen berikutnya, meski performa tim sedang menanjak sejak ia mengambil alih. Pria 44 tahun itu, yang ditetapkan sebagai manajer interim hingga akhir musim 2025-26 setelah Ruben Amorim dipecat pada Januari, menilai proses pemilihan sosok permanen harus dilakukan dengan kepala dingin dan pandangan jangka panjang, bukan reaksi sesaat terhadap hasil, baik positif maupun negatif.
Dalam beberapa pekan terakhir, Carrick membawa United bangkit dengan tiga kemenangan beruntun yang sarat kepercayaan diri atas Manchester City, Arsenal, dan Fulham. Rangkaian hasil tersebut mengerek posisi Setan Merah ke peringkat keempat Liga Premier dan menyuntikkan optimisme di Old Trafford menjelang laga penting melawan Tottenham pada akhir pekan. Namun, di tengah momentum itu, Carrick menolak terpancing pada spekulasi mengenai masa depannya sendiri. Ia menegaskan tidak ada perubahan pada statusnya saat ini dan tidak ingin fokus tim terpecah oleh manuver di luar lapangan. Baginya, tugas utamanya jelas: menjaga laju, memperbaiki detail permainan, dan memastikan United menutup musim sekuat mungkin.
Carrick menilai klub harus memprioritaskan konsistensi dan progres bertahap. Dalam beberapa tahun terakhir, United sudah beberapa kali mencoba jalur berbeda lewat sejumlah penunjukan manajer, dengan hasil yang sering kali tidak sesuai harapan. Karena itu, menurutnya, keputusan tentang siapa yang akan menjadi nakhoda permanen tidak boleh lahir dari euforia kemenangan atau kepanikan ketika tim goyah. Ia menekankan pentingnya fondasi: identitas permainan yang jelas, arah pengembangan skuad, dan struktur kerja yang selaras dari ruang rapat hingga ruang ganti. Semua itu, ujarnya, tidak bisa dibangun dengan keputusan tergesa-gesa.
Sebelum menunjuk Carrick untuk menakhodai tim hingga musim tuntas, United juga sempat berdiskusi dengan mantan manajer Ole Gunnar Solskjaer dan eks striker Ruud van Nistelrooy mengenai opsi pelatih sementara. Akhirnya, pilihan jatuh kepada Carrick—figur yang memahami kultur klub luar-dalam setelah 12 tahun sebagai pemain, meraih gelar Liga Premier dan Liga Champions, lalu melanjutkan kiprahnya sebagai bagian dari staf pelatih. Rekam jejak itu membuatnya bukan hanya sosok transisional, tetapi pula jembatan yang memahami tuntutan Old Trafford sekaligus kebutuhan ruang ganti saat ini.
Di sisi personal, Carrick menikmati kesempatan ini tanpa kehilangan kewaspadaan. Ia mengakui merasa “pulang” ke rumah lamanya, namun tetap sadar betul dinamika dan batas kewenangannya sebagai manajer interim. Pengalaman kurang menyenangkan ketika didepak Middlesbrough musim lalu menjadi pengingat baginya untuk tetap rendah hati dan fokus pada pekerjaan harian: merancang rencana laga, memaksimalkan kemampuan pemain, dan menjaga suasana kompetitif yang sehat. Kemenangan atas City dan Arsenal—dua lawan dengan gaya bermain berbeda—menunjukkan timnya mampu bertahan disiplin, memanfaatkan transisi, dan lebih efisien dalam momen kunci. Sementara hasil melawan Fulham menegaskan pentingnya profesionalisme dalam menghadapi lawan yang datang dengan motivasi menahan laju United.
Menatap Tottenham, Carrick menekankan bahwa konsistensi lebih berharga daripada sekadar sorotan sesaat. Ia paham betul Liga Premier tidak pernah memberi jeda: jadwal padat, lawan beragam, dan setiap pekan menguji fokus. Dalam konteks itu, stabilitas menjadi mata uang utama—baik untuk menjaga performa di lapangan maupun menuntun dewan klub mengambil keputusan strategis di akhir musim. Carrick menyebut dirinya siap mengemban tanggung jawab sampai garis finis, sambil menyerahkan urusan penunjukan permanen kepada para pengambil keputusan. Jika pada akhirnya klub memilih orang lain, ia mengatakan akan menghormatinya; jika klub memberi kepercayaan lebih, ia pun siap.
Untuk saat ini, pesan Carrick sederhana namun tegas: jangan reaktif. United perlu melangkah setahap demi setahap, membangun dari kemenangan ini, memperbaiki kekurangan yang masih terlihat, dan menutup musim dengan landasan yang kukuh. Baru setelah itu, dengan informasi yang lengkap dan perspektif yang jernih, klub bisa menentukan arah jangka panjang. Hingga momen itu tiba, Carrick dan para pemainnya memilih bekerja dalam diam, menaruh semua energi pada 90 menit berikutnya, dan membiarkan penampilan di lapangan menjadi argumen terkuat mereka.
Diaz Mengamuk di Munich: Hat-trick Sensasional, Bayern Lumat Hoffenheim 5-1 dan Melejit Enam Poin di Puncak Moveon88 – Bayern…
Gyokeres Menggila di Emirates: Arsenal Mantap Sembilan Poin di Puncak, United Menanjak, Tottenham Kian Terpuruk Moveon88 – Arsenal mempertegas…
Carrick Minta MU Tak Gegabah Tunjuk Manajer Permanen, Fokus Stabilitas hingga Musim Berakhir Moveon88 – Michael Carrick menegaskan Manchester…
Drama Piala Prancis: Lens Berpesta Gol, Endrick Bersinar Angkat Lyon ke Perempat Final Moveon88 – Malam Piala Prancis menghadirkan…