Moveon88 – Sadio Mane berdiri di ambang panggung terakhirnya di Piala Afrika, dan Senegal berharap akhir cerita itu akan ditulis dengan tinta emas. Sang ikon, yang menginspirasi Les Lions de la Teranga menjuarai AFCON pertama dalam sejarah mereka pada 2022, menegaskan bahwa final AFCON 2025 melawan tuan rumah Maroko pada Minggu di Rabat akan menjadi partisipasi terakhirnya di turnamen tersebut. Pada usia yang akan menginjak 34 tahun pada April, Mane telah melampaui 120 penampilan untuk negaranya sejak debutnya pada 2012—ironisnya melawan Maroko—dan kini kembali berhadapan dengan lawan yang sama saat ia menatap sebuah penutup yang berpotensi bersejarah.
Kilas balik ke Yaounde, Februari 2022, adalah puncak yang mendefinisikan karier internasionalnya. Pada malam ketika Senegal membekuk Mesir lewat adu penalti, Mane mengubah tekanan menjadi penebusan. Setelah gagal dari titik putih pada waktu normal, ia maju lagi sebagai eksekutor penentu dan menancapkan tendangan yang mengantar Senegal menjadi raja Afrika untuk pertama kalinya. Momen itu, yang melepaskan beban panjang dari pundak anak kampung di tepi Sungai Casamance, dipahami betul oleh Mane sebagai sebuah keharusan. Ia mengaku pernah bermain di bawah tekanan yang mencekik karena ekspektasi di tanah airnya begitu besar. “Orang-orang di Eropa mencintai tim nasional mereka, tetapi beberapa orang lebih mencintai klub mereka — Senegal adalah kebalikannya,” tuturnya dalam sebuah perbincangan baru-baru ini, sembari mengakui bahwa memenangkan Piala Afrika adalah kunci untuk berdamai dengan tekanan dan memenuhi janji terhadap bangsanya.
Namun, jalur menuju kebesaran jarang lurus. Mane menanggung pahitnya kekalahan di final 2019 dari Aljazair di Kairo, dan lebih getir lagi, absen dari Piala Dunia 2022 karena cedera—sebuah kehilangan yang menandai betapa besarnya perannya di tim dan betapa rapuhnya impian dalam sepak bola. Justru rangkaian luka itu menajamkan tekadnya. Tahun 2026 dicanangkan sebagai babak penutup yang berkesan: menjemput medali AFCON kedua dan lalu mengalihkan fokus ke Piala Dunia di Amerika Serikat, di mana Senegal akan berbagi panggung grup dengan Prancis dan Norwegia. Jalan ke Rabat sendiri sudah mengisahkan ketahanan: pada semifinal Rabu lalu melawan Mesir yang diperkuat Mohamed Salah, Mane menjadi pembeda dengan gol kemenangan yang menegaskan mengapa namanya masih identik dengan momen-momen besar.
Di tengah hiruk pikuk jelang final, Mane mengumumkan bahwa laga melawan Maroko akan menjadi pertandingan terakhirnya di Piala Afrika. “Saya berharap untuk menang dan membawa trofi kembali ke Dakar,” ucapnya. Ujaran itu memantulkan tekad yang sama yang dulu membawanya memikul harapan bangsa. Selama dua setengah tahun terakhir, ia meniti karier di Arab Saudi bersama Al-Nassr, berbagi ruang ganti dengan Cristiano Ronaldo. Di sana, ia mempertahankan standar profesional dan daya saing, aspek yang turut membentuk ketajaman dan kesiapan mentalnya menatap partai puncak yang sarat atmosfer.
Generasi emas Senegal yang selama ini dipimpin Mane juga menyadari waktu tak bisa ditahan. Kiper andal Edouard Mendy, kapten berpengaruh Kalidou Koulibaly, dan gelandang berpengalaman Idrissa Gana Gueye adalah bagian dari koridor waktu yang mungkin segera berbelok. Ada kesan kuat bahwa Piala Dunia mendatang bisa menjadi pentas terakhir bagi banyak dari mereka sebagai satu angkatan. Mane, yang lama berada di bawah asuhan Aliou Cisse, kini dipimpin Pape Thiaw sejak akhir 2024. Sang pelatih menegaskan pentingnya memaksimalkan sisa tahun-tahun Mane di level tertinggi. “Anda tidak menemukan pemain seperti dia setiap hari,” kata Thiaw, sembari menyiratkan harapan agar ini bukan akhir yang absolut, meski kalender kompetisi terus bergerak dan regenerasi menunggu giliran.
Di turnamen tahun ini, Mane baru mencetak dua gol di Maroko sepanjang sebulan terakhir, termasuk satu pada hasil imbang fase grup kontra Republik Demokratik Kongo. Namun, total 11 golnya di pentas AFCON menempatkannya di kelompok elite penyandang dua digit—angka yang merefleksikan konsistensi kontribusi, tak hanya kilas-kilas sorotan. Penting pula bagi Senegal bahwa beban kreativitas dan keberanian kini mulai tersebar: Iliman Ndiaye dari Everton kian berpengaruh, sementara talenta muda Paris Saint-Germain, Ibrahim Mbaye, memberi wajah segar di lini serang. Di pundak-pundak inilah Mane bisa mewariskan estafet, menegaskan bahwa masa depan Serigala Teranga aman sepeninggalnya dari panggung AFCON berikutnya, yang dijadwalkan berlangsung di Kenya, Tanzania, dan Uganda tahun depan.
Final melawan Maroko tidak sekadar laga penutup bagi seorang bintang; ini adalah pertarungan narasi. Di satu sisi, tuan rumah dengan gelombang dukungan publik yang masif, di sisi lain, sang juara bertahan yang memahami apa artinya memenangkan pertandingan paling penting. Mane, dengan segala pengalaman dan ketenangan, tahu bahwa detail kecil akan menentukan: keberanian mengambil inisiatif, kesabaran membongkar lini pertahanan, serta kedisiplinan setiap kali situasi menuntut langkah sederhana yang sempurna. Ia sudah merasakannya pada 2022—bahwa satu keputusan tepat di momen paling bising dapat menjelma takdir.
Bila trofi itu kembali diangkat dan dibawa ke Dakar, Mane akan menutup lembar AFCON-nya dengan harmoni yang nyaris sinematik. Bila tidak, warisan tetap tidak tergoyahkan: ia telah membantu mengubah Senegal dari kisah “hampir” menjadi kisah “sudah”. Pada akhirnya, para legenda diukur bukan hanya dari gol dan gelar, tetapi dari sejauh mana mereka mengubah standar dan membentuk identitas sebuah generasi. Dalam hal ini, Mane telah memenuhi takaran—bahkan melampauinya. Rabat menanti, sejarah mengintip, dan Sadio Mane bersiap menulis baris terakhirnya dengan keberanian yang sama yang membawanya dari Casamance ke puncak Afrika. Apa pun hasilnya, Senegal sudah tahu: mereka telah memiliki pemimpin yang membuat mimpi kolektif terasa mungkin, dan itu, sendirinya, adalah kemenangan.
Laporta Kecewa Berat: Kepindahan Wonderkid Dro Fernandez ke PSG Getarkan Barcelona Moveon88 – Presiden Barcelona Joan Laporta mengakui rasa…
Pengakuan Jujur Pape Gueye: Insiden Walkout di Final AFCON Adalah Kesalahan, Kepahlawanan Tetap Milik Senegal Moveon88 – Pahlawan Senegal…
Bayern Tumbang 1-2, Rekor Tak Terkalahkan Sejak Maret Runtuh Moveon88 – Augsburg menulis kejutan terbesar pekan ini di Bundesliga…
Hadiah Rekor Dunia: Pemenang Piala Champions Wanita Kantongi USD 2,3 Juta, Tonggak Baru Sepak Bola Klub Putri Moveon88 –…