Moveon88 – Atalanta menulis salah satu malam Eropa paling menegangkan dalam sejarah klub mereka dengan menyingkirkan Borussia Dortmund lewat kemenangan 4-1 yang sarat emosi, kontroversi, dan pergantian momentum hingga detik-detik terakhir. Tertinggal agregat 0-2 dari leg pertama, wakil Italia itu menekan sejak peluit awal dan membalik keadaan melalui gol Gianluca Scamacca, Davide Zappacosta, Mario Pasalic, lalu ditutup penalti Lazar Samardzic pada menit ke-98 yang memastikan tiket babak 16 besar Liga Champions dengan agregat 4-3. Bagi Atalanta, ini bukan sekadar kelolosan; ini adalah validasi atas kebangkitan cepat di bawah Raffaele Palladino, serta penyelamat muka Serie A di musim Eropa yang berliku.
Malam yang dimulai dengan keharusan mencetak gol cepat itu langsung mengikuti naskah yang diinginkan tuan rumah. Kiper Dortmund, Gregor Kobel, memang sempat menggagalkan upaya Nicola Zalewski pada menit keempat, tetapi satu menit berselang, Ramy Bensebaini gagal menyapu bola dengan bersih dan Scamacca menyambar dari jarak dekat untuk menyalakan bara di tribune. Gol itu segera mengubah ritme pertandingan: Atalanta kian berani menekan, menutup jalur umpan Dortmund, dan memaksa lawan bertahan lebih dalam daripada yang mereka rencanakan. Ketika jeda semakin dekat, sebuah percobaan spekulatif dari Zappacosta berbelok setelah mengenai Bensebaini dan meluncur masuk—sebuah momen yang terasa seperti simbol malam buruk sang bek kiri Aljazair dan, pada saat yang sama, keberpihakan detail kecil kepada Atalanta. Skor pada malam itu menjadi 2-0; agregat pun kembali imbang 2-2 sebelum turun minum.
Selepas jeda, tekanan Atalanta tidak mereda. Energi lini tengah mereka mengalirkan bola ke sayap dan menyerang ruang belakang Dortmund dengan timing yang tepat. Hasilnya datang ketika Marten de Roon mengirim umpan silang yang tepat sasaran dan Pasalic menyundulnya untuk membawa Atalanta berbalik unggul dalam pertandingan. Tiga gol tanpa balas sejak menit awal menjadi bukti kematangan mental sekaligus efisiensi Atalanta pada fase-fase krusial. Namun Dortmund, finalis 2024, menolak menyerah. Masuknya Karim Adeyemi memberi dimensi baru pada serangan balik mereka; dengan kecepatan dan keberanian menggiring, ia memaksa Atalanta mundur beberapa langkah. Dengan 15 menit tersisa, Adeyemi menyamakan agregat lewat tembakan melengkung menawan dari tepi kotak penalti, sebuah aksi individual yang mengembalikan asa tim tamu pada momen ketika pertandingan tampak akan mengalir searah.
Drama lantas mencapai klimaks saat laga memasuki waktu tambahan (stoppage time) di akhir 90 menit. Ketika semua orang bersiap pada kemungkinan perpanjangan waktu, Bensebaini kembali berada di pusat sorotan. Dalam upaya menghalau bola di kotak terlarang, kakinya terangkat tinggi dan mengenai wajah Nikola Krstovic. Wasit Jose Sanchez menunjuk titik putih dan mengeluarkan kartu kuning kedua untuk Bensebaini setelah keputusan dikonfirmasi—VAR menilai kontak tersebut berbahaya, meski sang bek sempat menyentuh bola terlebih dahulu. Di tepi lapangan dan bangku cadangan, emosi berputar kencang bak pusaran. “Ketika wasit memutuskan penalti, saya tidak tahu siapa yang akan mengambilnya. Semua penendang penalti kami telah diganti, tetapi untungnya Lazar berhasil mengeksekusinya dengan brilian,” ucap mantan bek Arsenal, Sead Kolasinac, kepada DAZN. Dan benar saja, pada menit ke-98, Samardzic melangkah tenang lalu mengirim bola ke gawang dengan kaki kiri—sebuah sentuhan yang mengusir bayangan perpanjangan waktu dan menuntaskan malam panjang itu dengan efek katarsis bagi publik Atalanta.
Kemenangan ini menggambarkan perbedaan tipis antara keberanian dan kebodohan dalam sepak bola tingkat tinggi—ketika satu sentuhan kaki yang terlalu tinggi dapat mengubah narasi sebuah kompetisi. Malam itu, Atalanta memenangi hampir semua duel psikologis: berani mengubah tempo, cermat memanfaatkan situasi bola mati dan momen chaos, serta tetap terorganisasi ketika Dortmund mendorong garis pertahanan mereka hingga batas. Di bawah komando Raffaele Palladino, yang mengambil alih dari Ivan Juric pada November, Atalanta menampilkan campuran pragmatisme dan inisiatif menyerang—sebuah identitas yang tercermin pula dalam catatan tak terkalahkan di liga domestik sepanjang 10 pertandingan pada tahun 2026. Di sisi lain, Dortmund membawa pulang pelajaran keras tentang harga dari kesalahan-kesalahan individu. Kapten Emre Can berbicara tanpa tedeng aling-aling kepada DAZN, mengakui bahwa dengan begitu banyak kesalahan, sulit membayangkan mereka pantas melangkah jauh. “Jika Anda melakukan begitu banyak kesalahan individu, akan sulit untuk melaju… Kami sangat tidak beruntung, tetapi jujur saja kami tidak pantas untuk melaju,” katanya, merangkum rasa frustrasi di kubu tamu.
Jika menilik prolog pertandingan, pelatih Dortmund Niko Kovac sudah menegaskan bahwa keunggulan 2-0 dari leg pertama tidak akan membuat mereka bermain aman. Ia menilai kans timnya “50-50”, sebuah pernyataan yang pada akhirnya terbukti—bukan karena Dortmund tak menyerang, melainkan karena Atalanta bermain dengan akal dan intensitas yang konsisten sepanjang malam. Dortmund sebenarnya sempat memelihara harapan besar ketika Adeyemi mengembalikan parity agregat menjadi 3-3, tetapi taktik tuan rumah yang disiplin dalam mengatur jarak antarlini dan keberanian mencari peluang kedua pada bola liar membuat mereka selalu berada dalam posisi mengancam. Dan ketika adrenalin di waktu tambahan membawa keputusan-keputusan berisiko, tuah malam justru menjauh dari Bensebaini dan berlabuh pada Samardzic.
Secara lebih luas, hasil ini punya implikasi besar bagi sepak bola Italia di Eropa. Dengan Inter Milan tersingkir mengejutkan oleh Bodo/Glimt dan Juventus tertinggal 2-5 dari Galatasaray jelang laga penentuan, Atalanta memikul beban reputasi Serie A sendirian di momen genting. Sejak musim 1987-88, belum pernah ada situasi di mana tidak ada satu pun klub Italia yang mencapai babak 16 besar Piala Eropa, dan kemenangan Atalanta turut menjaga marwah statistik bersejarah itu tetap hidup. Di ruang ganti, tentu ada kebanggaan yang menyelinap di antara rasa lega—kebanggaan telah mengubah keraguan menjadi keyakinan, tekanan menjadi peluang, dan kekurangan menjadi keunggulan.
Undian pada Jumat akan mempertemukan Atalanta dengan pemuncak klasemen Liga Primer, Arsenal, atau juara Jerman, Bayern Munich—dua nama besar yang menjanjikan tantangan setingkat lebih tinggi. Namun justru karena itulah malam ini terasa begitu penting: bukan hanya karena skor 4-1, melainkan cara mereka meraihnya. Kematangan pilihan saat mengelola momentum, keberanian mengeksekusi rencana permainan, dan ketenangan di bawah tekanan ekstrem adalah mata uang yang berlaku universal di Eropa. Dan Atalanta baru saja membuktikan mereka memilikinya.
Untuk Dortmund, yang mengalami kekalahan paling awal di Liga Champions sejak 2021-22, tidak ada waktu terlalu lama untuk meratapi nasib. Bayern Munich akan bertandang pada Sabtu, dan respons cepat menjadi keharusan agar luka malam ini tidak merembet ke kompetisi domestik. Pada akhirnya, sepak bola kerap ditentukan oleh detail-detail yang tak terlihat di papan taktik—sapuan yang luput, sentuhan yang telat, atau penalti di menit ke-98. Atalanta menang karena mereka lebih siap ketika detail-detail itu datang menghampiri. Dan ketika momen paling menentukan tiba, Lazar Samardzic berdiri paling tenang di tempat yang paling bising, mengubah ketidakpastian menjadi kepastian, serta mengantarkan Atalanta ke 16 besar dengan cara yang akan lama mereka kenang.
Penalti Samardzic Sahkan Kebangkitan Atalanta, Singkirkan Dortmund 4-1 dan Lolos ke 16 Besar Moveon88 – Atalanta menulis salah satu…
Tancap Gas ke Eropa: Newcastle Perkasa ke 16 Besar Liga Champions dengan Agregat 9-3 Moveon88 – Newcastle United mengukuhkan…
Legenda Atletico Menuju Amerika: Antoine Griezmann Dikabarkan Merapat ke Orlando City, MLS Siapkan Panggung Baru Sang Juara Dunia Moveon88…
Bukan Masuk Area Terlarang: MLS Resmi Bersihkan Nama Lionel Messi Usai Insiden Pintu di Los Angeles Moveon88 – Lionel…