Moveon88 – Manchester City mengangkat trofi Piala Carabao untuk kesembilan kalinya dalam sejarah klub mereka setelah mengalahkan Arsenal 2-0 di final yang berlangsung di Wembley pada 23 Maret 2026. Dua gol yang dicetak oleh Nico O’Reilly dalam rentang empat menit pada babak kedua menjadi penentu kemenangan yang juga menyimpan kisah dramatis di baliknya — sebuah blunder fatal dari kiper Arsenal, Kepa Arrizabalaga, yang kembali menghantui karier sang kiper di panggung final Carabao Cup.
Pertandingan berjalan sengit sejak awal. Arsenal yang datang dengan ambisi besar menampilkan tekanan intensif di babak pertama. Bukayo Saka dan Kai Havertz menjadi motor serangan The Gunners, memaksa kiper Manchester City, James Trafford, bekerja keras. Trafford tampil gemilang dengan tiga penyelamatan penting yang berhasil menjaga gawangnya tetap bersih hingga turun minum. Duel di babak pertama itu milik Arsenal — setidaknya dari sisi penguasaan dan tekanan — namun City tidak goyah.
Babak kedua membawa perubahan wajah permainan. Manchester City tampil jauh lebih baik dan mulai mengambil alih kendali lapangan tengah. Dalam situasi itulah tragedi bagi Arsenal dimulai. Gol pertama lahir dari rangkaian umpan yang dibangun melalui Rodri, Bernardo Silva, dan Rayan Cherki — sebuah kerja sama yang merobek pertahanan Arsenal dengan presisi. Namun yang paling diingat bukan hanya keindahan serangan City, melainkan kegagalan fatal Kepa. Kiper asal Spanyol itu membuat blunder yang langsung berbuah gol, membuka keunggulan City dan memecah kebuntuan laga di Wembley.
Empat menit kemudian, sebelum Arsenal sempat memulihkan diri dari guncangan itu, Nico O’Reilly kembali menjebol gawang Kepa. Kali ini gol lahir dari umpan Matheus Nunes, yang dengan tenang diarahkan O’Reilly ke dalam jala. Dua gol dalam empat menit — sebuah pukulan ganda yang membuat harapan Arsenal sirna seketika.
Ironi semakin terasa ketika kita menengok alasan Mikel Arteta memilih Kepa sebagai kiper starter di final ini, menggeser David Raya yang selama ini menjadi penjaga gawang utama Arsenal. Keputusan itu mengundang tanya, dan jawaban pahitnya tertulis di papan skor Wembley. Ini bukan pertama kalinya nama Kepa terkaitan dengan momen kelam di final Carabao. Pada 2019, ia menolak digantikan manajernya sendiri dalam adu penalti ketika Chelsea menghadapi Manchester City — sebuah insiden yang mengguncang dunia sepak bola. Pada 2022, kembali bersama Chelsea di final Carabao, ia juga terlibat dalam momen yang tak menguntungkan. Kini di 2026, sejarah seolah berulang dalam wujud berbeda.
Kepa sendiri sempat lolos dari hukuman yang lebih berat di tengah laga. Kiper berusia 31 tahun itu keluar jauh dari garis gawangnya untuk menghadang Jeremy Doku, sebuah aksi yang bisa berujung kartu merah, namun wasit memutuskan untuk tidak memberikan hukuman itu. Bagi Arsenal, mungkin itu satu-satunya keberuntungan yang mereka dapatkan malam itu.
Bagi Manchester City dan Pep Guardiola, kemenangan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar trofi. City baru saja tersingkir dari Liga Champions oleh Real Madrid — sebuah kekalahan yang pasti meninggalkan luka. Kemenangan di Wembley ini menjadi balsem, pembuktian bahwa meski musim ini penuh gejolak, semangat mereka belum padam. Guardiola, yang dikenal tenang di tepi lapangan, kali ini tak mampu menyembunyikan emosinya. Sang pelatih asal Spanyol itu merayakan kemenangan dengan begitu ekspresif hingga mendapat kartu kuning dari wasit — sebuah pemandangan langka yang justru menggambarkan betapa berartinya momen ini baginya.
Bagi Guardiola secara pribadi, ini adalah gelar Piala Carabao kelimanya bersama City, menjadikannya sosok yang paling identik dengan dominasi di kompetisi ini. Bagi klub, trofi kesembilan Carabao Cup semakin mempertegas status Manchester City sebagai penguasa kompetisi tersebut dalam era modern.
Sementara itu, bagi Arsenal, kekalahan ini menutup peluang mereka untuk meraih quadruple musim ini. Mimpi memenangi empat gelar sekaligus kini kandas di Wembley. Yang lebih menyakitkan, trofi ini seharusnya bisa menjadi pemutus paceklik gelar The Gunners — terakhir kali mereka mengangkat trofi adalah ketika menjuarai Piala FA pada 2020. Sudah enam tahun tanpa silverware, dan kesempatan emas di final Carabao ini pun gagal dimanfaatkan.
Namun perjuangan Arsenal belum sepenuhnya berakhir. Mereka masih memiliki tiga front yang bisa dikejar: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions. Arteta dan pasukannya harus segera membuang kekecewaan ini dan berfokus pada peluang-peluang tersisa yang masih terbuka. Tapi luka Wembley malam ini — dan nama Kepa yang kembali menjadi catatan kelam — tentu tak akan mudah terlupakan.
Di atas semua narasi itu, satu nama bersinar paling terang malam ini: Nico O’Reilly. Pemuda yang tampil luar biasa di Wembley itu mencetak dua gol penentu dan memastikan namanya terukir dalam sejarah Manchester City. Final Carabao 2026 adalah miliknya — dan milik City.
Giroud Patahkan Mimpi Marseille di Ujung Laga, Lille Curi Tiga Poin dari Kandang Sang Tuan Rumah Moveon88 – Malam…
Nico O’Reilly Menghancurkan Arsenal, Manchester City Rengkuh Gelar Carabao Cup Kesembilan Moveon88 – Manchester City mengangkat trofi Piala Carabao…
Coventry Makin Tak Terbendung, Para Pesaing Terpeleset di Saat Krusial Moveon88 – Impian Coventry City untuk kembali merasakan panggung…
Messi dan Argentina Bersiap Pertahankan Mahkota Dunia: Sang Juara Bertahan Melangkah Pertama ke Piala Dunia 2026 Moveon88 – Sebelum…