Moveon88 – Aljazair menegaskan status mereka sebagai salah satu favorit Piala Afrika dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Guinea Khatulistiwa, hasil yang melengkapi sapu bersih tiga kemenangan dari tiga laga di Grup E dan memamerkan kedalaman skuad yang mengintimidasi. Di Stade Moula El Hassan, tim yang datang dengan sembilan perubahan dibanding kemenangan atas Burkina Faso tetap tampil rapi, berenergi, dan efisien, mengubah rotasi besar menjadi unjuk kualitas. Gol-gol di babak pertama dari Zineddine Belaid, Fares Chaibi, dan bintang muda Ibrahim Maza menghadirkan kontrol total, sementara upaya kebangkitan lawan hanya menghasilkan balasan tunggal dari sang veteran Emilio Nsue selepas jeda.
Sejak awal, Aljazair memperlihatkan struktur yang matang dan tempo yang sukar diimbangi. Pergerakan tanpa bola para gelandang membuka koridor serang, sementara bola mati dan umpan silang dieksekusi dengan ketelitian berulang. Keunggulan pertama tercipta pada menit ke-18 ketika Belaid mengalahkan pengawalnya dan menyundul tipis sepak pojok Anis Hadj Moussa ke gawang, gol yang mencerminkan perhatian Aljazair terhadap detail set-piece. Kepercayaan diri itu segera berlipat ganda enam menit kemudian: Maza, dengan visi yang jauh melampaui usianya, melepaskan umpan panjang presisi ke arah Chaibi yang menusuk dari second line. Satu sentuhan untuk membuka sudut, satu sepakan keras dari jarak dekat, dan papan skor kembali berubah memihak sang raksasa Afrika Utara. Dominasi babak pertama disegel pada menit ke-32, lagi-lagi dari sisi kiri yang produktif: Hadj Moussa mengirim umpan silang tajam yang disambut tandukan Maza, memantapkan kinerja gemilang sang pemain 20 tahun—sebuah gol yang disambut riuh penonton dan menjadi penguat narasi bahwa generasi baru Aljazair siap mengangkat beban tradisi.
Meski unggul tiga gol, Aljazair tidak benar-benar menurunkan intensitas. Mereka masih mendikte ritme, menutup jalur progresi lawan, dan menjaga lini belakang tetap tenang menghadapi ancaman transisi. Kiper Guinea Khatulistiwa, Jesus Owono, bekerja keras menjaga marwah timnya dengan dua tepisan penting jelang turun minum—menggagalkan peluang Moncef Bakrar dan semenit kemudian membaca bahaya di tiang dekat—agar selisih tak melebar. Namun, alur laga jelas berpihak kepada tim yang tampil lebih cerdas dan klinis di momen-momen kunci.
Babak kedua sempat membuka celah harapan bagi Guinea Khatulistiwa saat Emilio Nsue, top skor edisi terakhir di Pantai Gading, melepaskan tembakan jarak jauh pada menit ke-50 yang menembus pertahanan Aljazair. Gol itu memompa semangat tim yang datang dengan beban berat setelah tiga pemain pilar absen karena skorsing: Basilio Ndong usai kartu merah di partai pembuka, serta Carlos Akapo dan Josete Miranda yang dihukum akibat protes berlebihan kepada ofisial pada laga sebelumnya. Meski demikian, momentum itu tidak bertransformasi menjadi kebangkitan. Struktur Aljazair kembali mengunci ruang dan menekan opsi vertikal, sementara lini serang mereka tetap mengalirkan ancaman terukur tanpa perlu memaksakan intensitas. Upaya Guinea Khatulistiwa untuk mengulang kisah heroik menumbangkan raksasa—seperti yang mereka lakukan kepada Aljazair di edisi 2021—kali ini mentok oleh perbedaan kualitas dan kedisiplinan di berbagai lini.
Bagi Aljazair, kemenangan ini lebih dari sekadar tiga poin penutup fase grup. Ini adalah pernyataan tentang kedalaman dan fleksibilitas: sembilan rotasi tidak menggerus identitas permainan, justru menampilkan variasi ancaman. Hadj Moussa mencatat dua umpan berbuah gol, Maza menyumbang satu gol dan satu assist, sementara Chaibi memberi bukti ketajaman di kotak penalti. Semua itu hadir ketika sejumlah pilar utama diistirahatkan karena status mereka sudah pasti sebagai juara grup setelah menaklukkan Burkina Faso pada akhir pekan. Dengan energi yang terjaga dan rasa percaya diri yang menguat, mereka melangkah ke babak 16 besar untuk menghadapi Republik Demokratik Kongo dengan modal terbaik: skuad segar, kompetitif, dan memiliki banyak solusi.
Sebaliknya, Guinea Khatulistiwa menutup fase grup di posisi buncit tanpa poin, penyelesaian yang kontras dengan kiprah impresif dua tahun lalu. Absensi karena sanksi, manajemen emosi di momen krusial, dan kesulitan menjaga kerapatan di area berbahaya menjadi catatan yang akan mewarnai evaluasi mereka. Gol Nsue memang memberi pengingat akan kelas sang penyerang, tetapi laga ini juga memperlihatkan jarak yang masih perlu mereka tempuh untuk bersaing konsisten melawan tim-tim papan atas benua.
Konteks grup kian jelas seiring peluit panjang: Aljazair menyapu bersih dan menegaskan diri sebagai penantang utama trofi, Burkina Faso mengamankan posisi kedua usai menundukkan Sudan 2-0 di Casablanca, sementara Sudan turut melaju ke babak 16 besar sebagai salah satu dari empat tim peringkat ketiga terbaik. Bagi Aljazair, kemenangan ini juga menghapus sebagian bayang-bayang kegagalan pahit pada 2021 ketika mereka—datang sebagai juara bertahan—takluk dari Guinea Khatulistiwa dan finis terakhir di grup. Kali ini, kisahnya berbeda: ketenangan, efektivitas, dan kedalaman yang berbicara. Dengan fase gugur menanti, garis besar ambisi mereka tak lagi disembunyikan—Aljazair datang bukan hanya untuk bersaing, melainkan untuk merebutnya kembali.
Badai Bola Mati di Emirates: Arsenal Tekuk Chelsea 10 Pemain, Asa Juara Makin Menggelegak Moveon88 – Arsenal memenangi lagi-lagi…
Tegas Melawan Rasisme: Benfica Skors Lima Suporter Usai Insiden Vinicius Junior, Laga Sempat Terhenti 10 Menit dan Madrid Melaju …
Penalti Samardzic Sahkan Kebangkitan Atalanta, Singkirkan Dortmund 4-1 dan Lolos ke 16 Besar Moveon88 – Atalanta menulis salah satu…
Tancap Gas ke Eropa: Newcastle Perkasa ke 16 Besar Liga Champions dengan Agregat 9-3 Moveon88 – Newcastle United mengukuhkan…